Minggu, 14 Juni 2009

Resesi Ekonomi Dunia: Faktor Perubahan Politik Agresif Amerika


25

Tahun 2008 dapat dikata sebagai tahun krisis ekonomi dunia. Krisis ekonomi dunia muncul dalam pelbagai bentuk mempengaruhi ekonomi negara-negara dunia baik di sektor devisa, jaminan pengadaan sumber-sumber konsumsi dan bahan pangan sebagai kenyataan pahit yang harus diterima.

Para ekonom menilai sekitar satu tahun lalu sebagai titik tolak dan sumber munculnya krisis ekonomi dunia akibat semakin membengkaknya krisis ekonomi Amerika. Krisis yang dimulai akibat resesi pasar properti Amerika, turun drastisnya pasar keuangan Amerika dan menurunnya nilai tukar dolar Amerika dari 30 hingga 35 persen di tahun lalu. Dampak dari resesi ekonomi Amerika ini tentu saja sangat mempengaruhi ekonomi yang bergantung dengan Amerika seperti ekonomi Eropa, Amerika Latin dan negara-negara Arab Teluk Persia membuat krisis ini menyebar ke seluruh dunia. Dampak merusak pertama krisis ekonomi ini melibas pasar energi dunia. Melonjaknya harga minyak yang tidak biasanya berdampak pada meningkatnya inflasi di dunia yang berujung pada krisis pengangguran dan problem ekonomi lainnya.
Dalam kondisi yang demikian para pemerhati ekonomi dengan prediksi jatuhnya ekonomi Amerika bakal terjadi perubahan dalam perimbangan ekonomi dunia di masa depan. Seraya mengisyaratkan hakikat merusak ekonomi Amerika, George Soros menegaskan, “Periode adidaya Amerika di sektor ekonomi telah berakhir dan krisis ekonomi Amerika yang sedang terjadi saat ini akan lebih buruk dari krisis keuangan terbesar negara ini pada tahun 1929.”

Ekonomi kokoh Amerika senantiasa dianggap sebagai sandaran dan pendukung yang dapat dipercaya bagi politik luar negeri dan kekuatan militer negara ini. Para pejabat negara ini selalu berusaha melakukan ekspansinya di bidang politik luar negeri dengan bersandarkan pada kekuatan ekonominya. Saat ini sandaran yang dielu-elukan sebagai yang terkuat di dunia itu mengalami masalah besar dan semakin berkembangnya krisis ekonomi di negara ini akan berbanding terbalik dengan kekuatan negara ini. Para pemimpin dan pemikir Amerika dan non-Amerika yang punya perhatian pada ekonomi Amerika dan dunia menyampaikan pelbagai paket penyelamat ekonomi Amerika dan dunia yang sampai sekarang belum mampu berbuat apa-apa. Mereka tidak mampu mengendalikan ekonomi Amerika yang terus anjlok.

Di samping dampak negatif krisis ini terhadap ekonomi Amerika dan pada gilirannya adalah ekonomi dunia, dampak krisis ini di sektor politik luar negeri juga menimbulkan kekhawatiran serius. Sebagian pengamat bahkan menilai dampak krisis ekonomi ini sama dengan dampak politik dan ekonomi akibat runtuhnya tembok Berlin dan peristiwa 11 September. Sebagian malah melihatnya lebih dari itu dan dampak merusak dari krisis ekonomi yang sedang terjadi bakal mempengaruhi keseimbangan kekuatan dunia dan mempertanyakan nilai-nilai politik Liberal Demokrasi Barat yang membentuk bangunan masyarakat politik Barat. Pada akhirnya Douglas Rediker, Ketua New America Foundation dalam pertemuan komite hubungan luar negeri Senat mengatakan, “Manajemen krisis ekonomi dunia yang dilakukan oleh Amerika sangat menentukan peran Amerika dalam sistem baru dunia di abad 21.”

Reaksi Amerika Terhadap Krisis Ekonomi

Mencermati ucapan dan pernyataan para pejabat Amerika kita dapat memahami betapa dalamnya krisis yang sedang terjadi dan posisinya dalam agenda kerja program pemerintah Amerika.

Presiden Amerika Barack Obama mengatakan, “Kita memulai tahun 2009 dengan krisis yang untuk pertama kalinya menimpa kehidupan mayoritas rakyat Amerika. Jumlah mereka yang kehilangan pekerjaan pada tahun 2008 lebih dari jumlah mereka yang kehilangan pekerjaan setelah Perang Dunia II hingga kini. Berlanjutnya kondisi yang ada ini dapat mempertanyakan kekuatan persaingan ekonomi Amerika yang selama ini menjadi dasar kekuatan kita di dunia.”

Obama menambahkan, “Sejak awal masa jabatan kepresidenan saya, tujuan dan prioritas utama pemerintah adalah mengorganisir kerugian yang muncul akibat krisis ekonomi agar dapat mencegah kejatuhan yang lebih besar. Hingga kini jutaan orang kehilangan pekerjaan dan jutaan lainnya bakal kehilangan pekerjaannya.”

Dennis Blair, Direktur Intelijen Nasional Amerika menjadi pejabat Amerika yang mereaksi serius terkait kekhawatiran mereka akan dampak politik akibat krisis ekonomi dunia. Dennis Blair dalam pertemuan komisi intelijen Senat Amerika mengatakan, “Saat ini ancaman terbesar terhadap keamanan Amerika adalah berlanjutnya krisis ekonomi dunia. Berlalunya waktu juga dapat menjadi bahaya besar bagi Amerika. Bila proses rekonstruksi dan perbaikan kondisi ekonomi semakin lama diwujudkan, kemungkinan munculnya kerugian serius bagi kepentingan strategis Amerika semakin besar.” Ditambahkannya, “Efek samping politik paling penting dari krisis ekonomi bagi kepentingan Amerika mencakup ketidakmampuan sekutu Amerika untuk tetap konsekwensi secara utuh terhadap perjanjian militer dan bantuan kemanusiaan.”

Perubahan Kinerja Pemerintah Baru Amerika
Menurut para pakar dan analis dunia, kinerja baru yang diumumkan oleh pemerintah baru Amerika yang ingin melakukan interaksi lebih banyak dengan dunia diakibatkan pengaruh krisis ekonomi. Kamal Darwish, Direktur Program Pengembangan PBB (UNDP) dalam konferensi terkait masalah krisis ekonomi menyebut keberhasilan paling penting akibat krisis keuangan dan ekonomi saat ini adalah interaksi lebih luas Amerika dengan dunia. Menurut Kamal Darwish, “Amerika tidak dapat menyepelekan dunia untuk menyelamatkan dirinya dari dampak internal krisis ekonomi dan politik luar negerinya juga harus semakin lunak.”

Sekaitan dengan masalah ini, Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton di awal lawatan luar negerinya mengunjungi negara-negara Asia Timur. Mencermati pentingnya lawatannya ke negara-negara ini Clinton mengatakan, “Amerika tanpa dunia dan sebaliknya dunia tanpa Amerika tidak akan mampu menyelesaikan krisis yang ada.” Para pakar ekonomi menilai tujuan utama lawatan Clinton untuk melobi negara-negara Asia Timur dan memanfaatkan potensial negara-negara ini guna membantu Amerika mengurangi dampak krisis ekonomi di Amerika.

Krisis ini bahkan punya pengaruh besar pada sebagian cara pandang politik Amerika yang telah baku selama ini. Sebagai contoh, sikap para pejabat Amerika terhadap Cina saat ini betul-betul berbeda dengan masa lalu dan pada hakikatnya ini muncul dari pemahaman pentingnya Cina dalam mengurangi dampak ekonomi di Amerika. Cina menjadi kreditor asing terbesar bagi Amerika dengan lebih dari satu trilyun dolar dan pemerintah Obama untuk menjamin paket stimulus ekonomi Amerika sangat bergantung pada pembelian surat-surat berharga Amerika oleh Cina.

Kekhawatiran Senat Amerika
Kekhawatiran akan dampak krisis ekonomi dunia atas politik luar negeri Amerika sedemikian tingginya sehingga Senator John Kerry, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika dari kubu Demokrat menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji masalah penting ini dengan mengundang para pakar urusan intelijen, diplomasi dan ekonomi. Kepada mereka yang hadir dalam pertemuan ini ia mengatakan, “Amerika harus menciptakan kepercayaan di dunia akan kemampuannya menyelesaikan krisis yang ada.” Mereka yang hadir dalam pertemuan itu juga punya pandangan yang sama mengenai dampak krisis ekonomi terhadap politik luar negeri Amerika dan percaya bahwa negara-negara sekutu Amerika di Eropa dan dipelbagai penjuru dunia akan semakin lemah.

Para pakar yang hadir juga berpesan kepada Kongres Amerika bahwa demokrasi yang tidak punya akar pada akhirnya menghadapi ancaman meluasnya terorisme akibat krisis ekonomi. Bertambahnya angka pengangguran di Timur Tengah memberikan kesempatan meningkatnya para pemuda yang mengikuti aliran ekstrim. Mereka juga menasihati Kongres agar dalam kondisi saat ini yang dihadapi pemerintah Amerika Kongres tidak mengurangi bantuan luar negerinya.

Krisis Ekonomi dan CIA
Dinas Rahasia Amerika (CIA) saat ini tengah membahas dampak politik akibat krisis ekonomi dunia. Para pejabat urusan intelijen Amerika mengumumkan bahwa saat ini pemberantasan atau penghentian perluasan senjata pemusnah massal tidak menjadi prioritas lagi. Sekaitan dengan masalah ini, Direktur CIA Leon Panetta tanpa diduga mengumumkan bahwa CIA telah mulai mempublikasikan buletin harian baru yang bersifat rahasia guna menyempurnakan informasi keseharian Barack Obama mengenai ekonomi.

Hasil pengkajian baru CIA ini diserahkan kepada para politikus senior pemerintah Amerika seperti Timothy Geithner, Menteri Keuangan Amerika. Kini bagian penting yang mendapat perhatian badan intelijen Amerika telah difokuskan terhadap masalah krisis ekonomi. Mereka membahas bagaimana krisis ekonomi yang ada di negara-negara yang stabilitas ekonominya dapat menciptakan instabilitas bagi kepentingan Amerika.

Tidak ada komentar: