Senin, 15 Juni 2009

Kalahkah Hizbullah dalam Pemilu Lebanon ‘09?


Hampir semua media utama Indonesia memberitakan kekalahan Hizbullah dalam pemilu 8 Juni 2009 kemarin. Berita yang mentah-mentah berasal dari media Barat itu sebenarnya lebih merupakan disinformasi ketimbang fakta yang sebenarnya. Bagi pengamat yang memahami seluk-beluk sistem pemilu Lebanon yang sangat kompleks, Hizbullah justru keluar sebagai pemenang dalam pemilu kali ini.

Untuk membuktikan hal itu, kita perlu melihat beberapa fakta berikut:

  1. Lebanon adalah negara dengan sistem parlementer.

  2. Komposisi parlemen pada dasarnya merupakan pembagian kekuasaan antara dua agama besar (Islam dan Kristen) dan berbagai sekte masing-masing agama tersebut. Inilah sistem warisan kolonial yang disebut dengan konfesionalisme.

  3. Merujuk pada pembagian kekuasaan itu, 128 kursi parlemen disusun sebagai berikut: 64 kursi untuk Muslim dan 64 lainnya untuk Kristen. Jatah kursi Kristen dibagi sebagai berikut: Maronit (34), Ortodoks (14), Katolik (8), Ortodoks Armenia (5), Katolik Armenia (1), Protestan (1), Minoritas Kristen (1). Kemudian, jatah 64 kursi Muslim dibagi sebagai berikut: Sunni (27), Syiah (27), Druze (8) dan Alawi (2).

  4. Pemilu Lebanon menggunakan sistem yang mungkin paling kompleks di dunia: campuran sistem distrik dengan proporsional sektarian. Maksudnya, daerah pemilihan dibagi berdasar jumlah penganut agama atau sekte yang menyebar di masing-masing distrik.

  5. Konsekuensinya, untuk bisa menang secara “murah” dan mudah, partai seperti Hizbullah harus menempatkan daftar calegnya di distrik yang memperoleh jatah kursi terbanyak untuk Syiah. Sementara di distrik2 yang jatah kursi Syiahnya sedikit atau tidak ada, Hizbullah harus berkoalisi dengan parpol2 lain yang berbasis agama dan sekte lain seperti Gerakan Patriotik Merdeka pimpinan Michel Aoun atau Gerakan Maradah yang beraliran Maronit.

  6. Lebanon membolehkan caleg2 independen di semua distrik dari semua aliran. Tokoh Druze seperti Talal Arslan bisa mencalonkan diri di distrik yg mengakomodasi jatah kursi untuk Druze seperti di Aley, meskipun dia sejatinya adalah orang Hizbullah. Michel Murr bisa menjadi caleg independen untuk distrik Maten, meski dia sebenarnya masuk Aliansi 14 Maret pimpinan Hariri.

Selain sebagai parpol, kita harus ingat bahwa Hizbullah juga memiliki sayap militer. Sejauh ini, sekitar 30,000 lebih personel Hizbullah yang setiap saat harus siaga menghadapi ancaman Isrel. Mereka jelas tidak bisa memilih pada tanggal 7 Juni kemarin, bahkan selalu berusaha menyembunyikan identitasnya dari khalayak. Karena itu, dalam semua pemilu sejak tahun 1984, Hizbullah hanya diwakili oleh kekuatan sayap politiknya yang dikomandani oleh Muhammad Raad dan Hussein al-Hajj Hasan. Alasan yang sama juga menyebabkan Hizbullah selalu bergandeng dengan Gerakan Amal, sebuah gerakan sekuler Syiah yang memiliki pengalaman politik domestik lebih panjang ketimbang Hizbullah.

Pertanyaannya sekarang, benarkah Hizbullah kalah dalam pemilu 2009 ini? Jawabnya jelas tidak. Setidaknya ada lima bukti yang menunjukkan kemenangan Hizbullah.

Pertama, peningkatan popularitas Hizbullah di wilayah2 pendukungnya di Lebanon Selatan, Baalbek, Hermel, Baabda, Bint Jbeil, Nabatiyeh, Pegunungan Lebanon, Marjaiyyun, Hasbayya dan sebagainya. Sebagai contoh, di Baalbek-Hermel, pihak Hizbullah meraup 109 ribu suara sementara aliansi pro Barat memperoleh 14 ribu suara.

Kasus yang lebih telak terjadi di Bent Jbeil: Hizbullah memperoleh 58 ribu suara sementara aliansi pro Barat hanya memperoleh 500 suara. Bahkan, Hussein al-Hajj Hasan yang merupakan sekretaris pribadi Sayyid Hasan Nashrallah menjadi caleg terpilih dengan suara sah terbanyak, sekitar 109 ribu suara. Alhasil, di wilayah yang menjadi basis Hizbullah, popularitas Hizbullah justru meningkat beberapa kali lipat.

Kedua, Hizbullah berhasil mendongkrak popularitas tokoh2, caleg2 dan parpol2 dari sekte2 lain. Misalnya, Suleyman Franjieh, seorang tokoh Maronit yang dekat dengan Hizbullah. Pada pemilu 2005, tokoh ini tak berhasil lolos. Tapi tahun ini, dia dan dua anak buahnya mampu memborong 3 jatah kursi di distrik Zgharta yg sebelumnya dikuasai oleh tokoh Maronit lain yang anti Hizbullah.

Demikian pula Talal Arslan dari sekte Druze. Pada pemilu 2005, Arslan yang dikenal dekat dengan Hizbullah ini tak mampu mengalahkan kekuatan Walid Jumblat. Tapi tahun ini dia terpilih dengan dukungan Hizbullah di distrik Aley.

Ketiga, oposisi yang dipimpin Hizbullah berhasil meraup suara terbanyak (popular vote) meskipun tidak berhasil menjadi mayoritas di parlemen karena sistem distrik yang digunakan. Aliansi Hizbullah berhasil meraup 855400, sementara aliansi pro Barat mendapat 714200. Ini berarti ada selisih 141200 suara. Jika usulan oposisi untuk menerapkan sistem semi proporsional diterima, maka bisa dipastikan kubu oposisi bakal meraih mayoritas di parlemen Lebanon.

Keempat, bagaimanapun juga, yang disebut “kalah” oleh media Barat itu juga sama sekali tidak benar dalam konteks representasi parlemen. Yang sebetulnya terjadi adalah “stagnan”, lantaran jumlah keseluruhan kursi oposisi yg dipimpin Hizbullah pada pemilu kali ini sama dengan pemilu tahun 2005, yakni 57 kursi. Sisanya adalah 68 untuk blok pro Barat dan 3 untuk kelompok independen. Pemilu kali ini pun persis sama, sehingga terjadi stagnansi. Sialnya, media Barat secara sengaja memasukkan 3 anggota parlemen dari kubu independen ke dalam aliansi 14 Maret yang pro Barat sehingga total kursinya menjadi 71.

Kelima, Hizbullah berhasil mengubah stigma yang selama ini dilekatkan padanya sebagai partai eksklusif, sektarian dan anti Kristen. Dukungan massa Hizbullah untuk caleg2 Kristen di distrik2 Pegunungan Lebanon, Baabda, Jezzin, Zgharta, Bekaa, Marjaiyyun, Beirut selatan dan sebagainya telah mengejutkan banyak pihak. Banyak pengamat menilai realitas sebagai kemenangan strategis terbesar bagi Hizbullah dalam pemilu kali ini. Kini kelompok2 Kristen yang makin yakin dengan egalitarianisme, pluralisme dan patriotisme Hizbullah. Media massa Kristen di Lebanon juga mengakui fakta yang mengejutkan ini sebagai hadiah terbesar untuk demokrasi di Lebanon.

Sumber:

http://forum.tayyar.org/f8/

http://almanar.com.lb/NewsSite/NewsDetails.aspx?id=89081&language=ar

Tidak ada komentar: