Selasa, 30 Juni 2009

Obama, CIA, Ahmadinejad (Paul Joseph Watson)

sumber http://dinasulaeman.wordpress.com/

Catatan:

Artikel ini saya sarikan dari tulisan Paul Joseph Watson “Obama Claims CIA Involvement In Iran “Patently False”. Dan ini merupakan posting terakhir saya di blog ini terkait pilpres Iran 2009. I’m going back to my daily routine. Tulisan ini dan tulisan2 sebelumnya di blog ini sudah lebih dari cukup untuk menjawab berbagai tuduhan seputar Iran. Saya bukan sedang membela Iran karena Iran tak butuh pembelaan siapapun, apalagi dari orang kayak saya. Tapi, saya hanya sekedar ingin membantu memberikan jawaban kepada orang-orang yang punya pertanyaan dalam hati mereka…

Obama, CIA, Ahmadinejad (Paul Joseph Watson)

President Barack Obama akhirnya menanggapi berbagai analisis dan tulisan yang menyebutkan bahwa CIA ada di belakang kekisruhan politik yang terjadi di Iran pasca-pemilu. Menurut Obama, tuduhan itu “sangat salah”.

Padahal, bukti-bukti menunjukkan bahwa justru keterlibatan CIA dalam menciptakan ketidakstabilan di Iran atas persetujuan pemerintah AS dan programnya sudah dimulai sejak dua tahun yll. Pada bulan May 2007, President George W. Bush telah menyetujui CIA untuk melakukan operasi hitam dengan tujuan menumbangkan rezim di Iran. Langkah yang dilakukan adalah: dengan propaganda dan penyebaran informasi sesat, dan dengan membiayai Jundullah, salah satu kaki-tangan Al-Qaeda yang pernah diketuai otak 9/11 Khalid Sheikh Mohammed. Kelompok ini merupakan tertuduh pelaku sejumlah pengeboman di Iran yang bertujuan mendestabilisasi pemerintahan Ahmadinejad.

Selain itu, organisasi terroris Mujahedeen-e Khalq, yang dulu pernah dikendalikan oleh intelijen Irak di bawah Saddam Hussein saat ini bekerja khusus untuk CIA dan melakukan berbagai pengeboman di Iran. Sejumlah besar anggota Mujahedeen-e Khalq ditahan oleh pemerintah Iran, menyusul berbagai kerusuhan pasca pemilu. CIA juga dilaporkan telah mendistribusikan 400 juta dollars di dalam Iran untuk memunculkan revolusi.

Program CIA yang disetujui Bush ini juga meliputi pendanaan kelompok-kelompok oposisi dan menyediakan perlengkapan komunikasi yang mampu membuat para demonstran bisa tetap berkomunikasi meskipun ada sensor pemerintah. Twitter dan web-web jaringan social telah memainkan peranan kunci dalam hal ini. Pemerintah AS bahkan meminta Twitter.com untuk menunda proses maintenance yang telah dijadwalkan, supaya orang Iran bisa tetap memanfaatkan Twitter untuk melaporkan situasi kerusuhan.

CIA dan Mossad telah menciptakan feed palsu Twitter dan membanjiri rakyat Iran dengan SMS yang mendorong mereka untuk terlibat dalam kerusuhan. Menurut Thierry Meyssan, sblm penghitungan selesai, SMS gelap sudah tersebarluas, isinya “Mousavi dinyatakan Menang oleh KPU”. Langkah ini dilakukan untuk mempersiapkan publik agar mau terima tuduhan kecurangan yang dilemparkan Mousavi jika ia kalah. Meyssan juga menulis bahwa CIA dan Mossad menggunakan Twitter untuk menyebarkan laporan palsu tentang pertempuran bersenjata dan kematian, yang tidak pernah dikonfimasi, untuk membangkitkan amarah rakyat Iran karena mengira teman-teman sebangsa mereka sedang diperlakukan brutal oleh pemerintah.

Fakta lain juga menujukkan bahwa account Twitter yang digunakan untuk mengirim pesan-pesan selama protests adalah account yang baru saja dibuat dan sebelum aksi protes dimulai, account itu tidak pernah dipakai untuk mengirim pesan. (Artinya, account itu memang sengaja dibuat untuk mengacau situasi di Iran—Dina)

Dua tokoh neokonservatif yang punya kaitan erat dengan kalangan militer AS, seperti John Bolton dan Henry Kissinger selama bertahun-tahun yang lalu telah menyerukan CIA untuk mendanai sebuah “Revolusi Berwarna” di Iran untuk mengubah rezim di sana.

Dan sejarah juga mencatat, CIA sebelumnya pada 1953 pernah mendalangi sebuah kudeta di Iran, yang menggulingkan Perdana Menteri yang terpilih secara demokratis, Mohammed Mossadegh, melalui “Operasi Ajax”. Skenario yang dilakukan pada saat itu adalah dengan aksi-aksi pengeboman dan pembunuhan, lalu pemerintah Mossadegh dituduh sebagai pelaku semua tragedi berdarah itu. Selama masa “Operasi Ajax”, CIA juga menyuap pejabat pemerintahan Iran, bisnismen, dan reporter, serta membayar orang-orang Iran untuk turun ke jalan berdemo menentang Mossadegh.

Penutup (oleh Dina)

Dalam pidatonya di Kairo, Obama mengakui peran AS dalam “mengkudeta sebuah pemerintahan yang terpilih secara demokratis”. Mossadegh memang akhirnya tumbang, dan naiklah Syah Reza Pahlevi sebagai Raja Iran. Konsesi-konsesi atas ladang minyak dan gas di Iran yang sangat kaya (yang tadinya oleh Mossadegh dinasionalisasi) akhirnya kembali ke perusahaan-perusahaan AS. Tahun 1979, Syah Pahlevi ditumbangkan oleh aksi-aksi demonstrasi rakyat di bawah pimpinan Imam Khomeini.

Dan kini, tahun 2009, CIA ingin mengulangi skenario yang serupa. Namun rupanya Iran sudah berubah. Rezim Mullah ternyata tak sama denganRezim Mossadegh. Setelah melalui dua pekan gelombang kerusuhan (dan menggunakan simbol warna hijau, meniru-niru “Revolusi Berwarna” di beberapa negara Balkan yang didanai oleh AS), Rezim Mullah tetap bertahan. Dan situasi kini kembali seperti apa yang memang sudah terjadi selama 30 tahun terakhir: anjing mengonggong kafilah berlalu.

Tidak ada komentar: