Jumat, 12 Juni 2009

Hizbullah puas dengan kekalahannya ?????

Suriah Tak Khianati Hizbullah : Sebuah Bantahan

Hizbullah SANGAT PUAS dengan kekalahannya pada pemilu legislatif 2009 kemarin, karena beberapa hal berikut ini:

Pertama:

Kemenangan kubu Oposisi pada pemilu kemarin justru akan membuat Israel menempatkan Libanon sebagai negara teroris yang menjadi target incarannya. Seandainya Hizbullah menang lalu berkuasa, bukan hanya Gerakan Perlawanan yang menjadi incaran rezim Zionis, tetapi malah seluruh komponen bangsa Libanon.

Kedua:

Selain itu, dapat dipastikan AS dan sekutunya akan mengumumkan bahwa Libanon adalah negara yang berada di bawah hegemoni Iran. Akibatnya, seluruh aset negara-negara asing di Libanon dan sejumlah investasi negara-negara Arab maupun Barat akan dibawa lari ke luar Libanon.

Ketiga:

Sanksi internasional pun akan diberlakukan kepada negara tersebut, sebagaimana yang telah diberlakukan kepada Suriah dan Iran.

Keempat:

Belum lagi kekhawatiran internal dari kalangan kubu Oposisi itu sendiri berupa sulitnya pembentukan kabinet pemerintahan baru. Hampir dikatakan mustahil jika kelompok 14 Maret mau bergabung dalam format kabinet seperti itu. Konflik antara kedua kubu itu pun kemungkinan besar akan berpindah dari forum-forum politik ke jalanan. Hal itu dapat mengakibatkan terjadinya sebuah kevakuman bahkan chaos yang dapat ‘membuka kedok’ dan ‘menelanjangi’ Hizbullah dari salah satu unsur terpenting dari kekebalan internalnya.

Kelima:

Hizbullah memang dengan antusiasnya berjuang demi meraih kemenangan pada pemilu kemarin. Tetapi di saat yang sama partai ini juga merasa lega dengan kekalahannya, barangkali kelegaan itu lebih dirasakannya lagi setelah menerima sejumlah ajakan dan uluran tangan untuk membuka selebar-lebarnya pintu Dialog Nasional, kemitraan dan keharmonisan, yang disampaikan berulang-ulang kali oleh kubu 14 Maret, pemenang pada pemilu kemarin.

Keenam:

Hizbullah lebih lagi merasa lega setelah mendengar saran-saran dari Washington, Paris, Riyadh, Kairo yang mendesak kubu 14 Maret agar semaksimal mungkin menunjukkan keterbukaan terhadap Hizbullah, untuk melibatkannya dalam kabinet mendatang dengan maksud ‘mengurung’nya.

Ketujuh:

Sejumlah diplomat terkemuka di Beirut bahkan mengungkapkan bahwa Hizbullah secara sengaja merencanakan kekalahan pada pemilu legislatif 2009 kemarin, karena tidak mau menanggung tanggung jawab besar dengan berpindah dari barisan Oposisi ke tampuk kekuasaan, untuk menjalankan pemerintahan Libanon yang tengah berada dalam situasi yang sangat kritis dan menghadapi tantangan-tantangan regional maupun internasional yang sangat besar.

Kedelapan:

Dalam ceramahnya yang disampaikan pada hari senin (8/6/09) kemarin, sekjen Hizbullah sayid Hasan Nashrallah mengatakan bahwa berlangsungnya pemilu secara tertib dan aman, di samping antusiasnya 1,5 juta pemilih dari warga Libanon yang berbondong-bondong mendatangi billik-bilik suara, lantas pemenangnya adalah kubu 14 Maret, telah meruntuhkan sebuah ‘kebohongan besar’ yang selama ini digembar-gemborkan, bahwa kondisi negara takkan aman, pemilu takkan berlangsung aman, akan ada tekanan terhadap kebebasan para pemilih jika Hizbullah masih dibiarkan memegang senjata. Kemenangan kubu 14 Maret adalah bukti kebohongan isu negatif tersebut.

Konkulsi:

Hezbullah, sebagai partai, tidak kalah, namun yang kalah adalah koalisinya. Dengan dengan demikian, apa yang ditulis dalam media Barat tidaklah mencerminkan realitas objektif, selain dapat dianggap bertujuan mengadu-domba antara Iran-Hizbollah dan Suriah. (Ahamad Hamid, pemerhati Timur Tengah)

Tidak ada komentar: