Senin, 06 Oktober 2008

Masya Allah... "Takbir Dangdut"

Malam lebaran di Indonesia tidak lagi sakral. Batapa tidak? Gema takbir yang mestinya memancarkan cahaya iman dan menggetarkan jiwa-jiwa yang kembali ke fitrah, malah “dijus” dengan dangdut dan disko.

Lebih parah lagi, tidak sedikit gerombolan anak-anak muda meramaikannya dengan pesta miras dan mengganggu masyarakat.

Malam lebaran yang dulu, saat aku masih kecil, benar-benar patut dirindukan.

Kotekan sambil kelompk bocah bersarung yang mengumandangkan di lorong-lorong kini tak terdengar. Riuh rendahnya takbir yang terdengar di sawah belakang rumah lenyap. Yang terdengar malah raungan knalpot yang mengintimidasi setiap pejalan kaki.

Menyedihkan, di Indonesia semua yang sakral telah dikoyak-koyak! Pekik “Allahu akbar” yang pernah menjatuhkan para tiran zalim kadang diubah menjadi pengiring goyang pinggul atau dijadikan sebagai represi atas nama Islam demi memberangus kelompk Islam lain yang kebetulan jumlah pengikutnya lebih sedikit.
Biang keroknya adalah telivisi. Alat pengeruk uang kaum kapitalis ini benar-benar telah mengubah agama yang sakral menjadi agama ngepop dan genit.

Tidak ada komentar: